Kemarin aku ngobrol di telpon dengan sahabat masa sekolah dulu. Dari cerita keluarga sambil bernostalgia, akhirnya sampai ke tema reuni, yang bakalan segera dilangsungkan. Temanku (CE) bercerita bahwa ada satu teman (CO) salah seorang dari alumni yang bertanya siapa saja teman sekelasnya yang hadir saat acara "Berbuka Puasa" yang baru saja berlangsung.
Temanku tadi menyebutkan namaku.
CO: "Tinggal di mana dia?"
"Di Jerman" jawab temanku.
CO: "Ah, sombong kali dia itu".
CE: "Memang kenapa dia, kok sombong? Pernah berbuat apa dia?"
CO: "Dia nggak mau kasih sumbangan untuk acara reuni kita."

Ternyata penilaian seseorang terhadap diri kita memang tidak bisa diduga. Hanya karena tidak menyumbang seseorang bisa dianugerahi kata sombong. Aku sebenarnya tidak kenal dengan CO ini, hanya pernah berteman lewat salah satu situs jejaring sosial. Si CO ini mengaku teman sekelas di sekolah dulu, tapi walaupun aku berfikir keras untuk mengingat namanya, tetap saja aku yakin bahwa dia bukan teman sekelasku, hanya pernah satu sekolah, dan aku memang tak mengenalnya. Aku telah menghapusnya dari daftar teman karena pesan-pesannya sedikit mengganggu. Mungkin saja diawali alasan tersebut, makanya aku dicap sebagai orang yang sombong. Hanya karena pemikiran sempit seperti ini banyak sekali orang yang dikategorikan sombong. Terserahlah.
No comments:
Post a Comment