Sunday, September 06, 2009

Wespenbiene

Siang ini (sekitar jam 1-an siang) aku lagi di dapur, lagi merampungkan kue, kebetulan ada permintaan dari suami. Baru aja mau siap-siap untuk acara minum kopi siang dan makan kue..tiba-tiba aku dengar suamiku sedikit teriak, diikuti Chiara. Masa ini Chiara lagi senang „membeo“. Masa dia lagi belajar dan mengulang apa yang dia dengar dari sekeliling.

Suamiku ada di dapur, dan bilang baru aja dientup (disengat) tawon. Jenis ini mungkin yang disebut „Wespenbienen“ (Nomada Succincta). Yang warnanya kuning hitam liris itu, ramping. Aku liat lehet suamiku bentol, dan di tengahnya ada titik merah. Tiba-tiba si tawon keluar dari kerah baju suamiku…langsung aku ambil dengan tissue dapur.

Kita kasih salep, dan dikompres pake kantung es. Kira-kira 15 menit kemudian, suamiku bilang dia kedinginan, dan bibirnya mulai agak kebas…(kebal gitu ya..). Aku dah bilang kita ke Dokter aja. Berhubung ini akhir minggu yah mungkin harus cari yang tugas di emergency. Pertama suamiku gak nurut, tapi setelah beberapa menit dia merasa makin parah. Akhirnya kita telpon si Dokter jaga di akhir minggu.

Beberapa menit kemudian…datanglah rombongan petugas emergency. Bayangkan 4 mobil, termasuk mobil ambulance. Lengkap dengan sirene yang aktif. Ada 7 orang petugasnya. Bingung, gak tau mau melakukan apa, kecuali hanya melihat mereka kerja dan cepat…..sekali. Tiba-tiba setelah mereka pasang infus dan memberikan suntikan, suamiku harus berdiri. Aku bingung…waktu mereka bilang sekarang kita jalan ke luar. Yah…suamiku harus dibawa ke UKT-Klinik Tübingen. Aku terbengong, dan suamiku juga nggak sempat bicara apa-apa. Aku dikasih nomor telpon oleh petugas untuk menghubungi klinik kira-kira 1 jam kemudian.

Rombonganpun pergi… Chiara nangis manggilin papanya……

Aku bingung…dan sedih…cemas takut ada yang lebih parah terjadi. Suamiku alergi terhadap sengatan lebah/tawon.

Sekitar 1 jam lebih…aku putuskan untuk telpon. Aku juga mau tau apakah suamiku harus dirawatinap, atau bisa pulang hari ini juga. Ternyata…semua baik-baik aja. Hasil tes darah juga baik, dan keadaan suamiku katanya baik…. Hari ini dia akan pulang. Tapi dia nggak mau dijemput, katanya naik taxi aja…biar aku nggak perlu muter-muter nyari di mana Kliniknya, di mana ruangannya, dll.
Waktu ngomong di telpon, aku bilang ke suamiku…bahwa dia ke Klinik tanpa sepatu (padahal hari ini dingin), dia hanya berkaus-kaki, dan pakaian kerja di kebun…. (bisa dibayangkan kan bagaimana dekilnya…hehe…). Nggak bawa tanda pengenal apapun, hanya pakaian yang melekat di badan, itupun dekil. Duh merananya dia…!
Sekitar jam 5 sore suamiku tiba di rumah. Katanya dia lapar dan haus.  Sekarang kita bisa ketawa ingat kejadian tadi.

-----

Tetangga menduga hal yang lebih jelek telah terjadi. Mereka bilang, kalau aku perlu apa-apa biar mereka yang antar aku, jadi aku nggak perlu nyetir sendiri, mungkin mereka pikir pasti aku panik dan bingung. Memang benar begitu. Terima kasih buat para tetangga ini…. Aku tau mereka memang benar-benar peduli.

Foto; Wikipedia

No comments: