Saturday, April 23, 2011
Pindahan
Sementara ini dipindahkan ke http://www.hennieoberst.wordpress.com/ supaya bisa diakses di mana-mana.
Tuesday, March 01, 2011
Cinta itu (kadang) Konyol ...edisi Jatuh Cinta
Aku berlari menuju lift yang pintunya hampir tertutup.
uhhh...lega......pintu terbuka kembali, seseorang telah menahannya dari dalam.
"Thank you", kataku sambil tersenyum kepada seorang lelaki yang telah menahan pintu untukku.
Ada tiga orang di dalam lift, si lelaki tadi, seorang wanita dan aku.
Aku tak kenal mereka berdua, tapi wajah lelaki tersebut sangat sering aku lihat di gedung ini.
Tiba-tiba si lelaki memberikan ponselnya kepadaku, tanpa berkata-kata.
Aku bingung, dan melihat ke arah si wanita, tetapi dia diam saja.
("Oh...ternyata mereka tak saling mengenal"), batinku.
Kuterima ponsel itu dan menggenggamnya, tanpa aku tahu apa maksud si lelaki tersebut.
"Aku harus ke luar, di lantai ini", kataku pada si lelaki.
"Oh, aku ikut", lanjutnya.
"Apa maksudmu dengan memberi ponsel ini?", tanyaku kemudian, setelah kami berdua berada di luar lift.
"mmm...aku sebenarnya ingin tahu nomor telponmu, maaf", lanjutnya dengan nada salah tingkah, dan menyebutkan namanya.
"oh ok, itu tempat kerjaku", lanjutku dan tak kuasa menaha tawa menunjuk salah satu kantor yang ada di lantai tersebut, menyebutkan namaku sembari mengetikkan nomor telponku di ponsel tersebut.
"Mmmm...thank you very much, I'll call you later", jawabnya sambil pamit dan mengatakan bahwa kantornya berada di lantai lain di gedung tersebut.
Cinta itu kadang konyol dan membuat seseorang melakukan hal-hal bodoh.
......to be continued......
Monday, February 28, 2011
Merajuk
"Mimpiku masih belum pupus...bersamamu menghabiskan waktu di rumah yang nyaman,
jauh dari hiruk-pikuk... sambil membiarkanmu menulis tentang keindahannya....
Tapi jarang sekali aku dengar kabarmu. Aku tau kamu pasti sibuk sekali.
Atau mungkin inilah resolusi-mu tahun 2011..menempatkanku di urutan paling belakang".
Saturday, February 26, 2011
Ceplukan
Nama Latinnya adalah Physalis angulata. Aku mengenal buah ini di masa kecil, kami menyebutnya buah Ceplukan. Dulu saat melewati masa liburan sekolah kami sering menghabiskan waktu menginap di rumah kakek dan nenek dari pihak Ayah. Di sana kami juga punya teman-teman main selain sepupu yang kebetulan tinggalnya di rumah tersebut.
Sampai masa-masaku di Sekolah Menengah Atas (SMA) desa yang terletak di salah satu lokasi perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara tersebut masih sangat asri, nyaman dan tenang. Dulu kegiatan kami adalah menyusuri pematang sawah, mencari jamur kalau lagi musimnya datang. Masuk hutan mencari tanaman pakis buat dimasak, juga memancing ikan dan mencari kepah di sungai. Ada yang tidak mengenal „kepah“...?
Saat sedang menyusuri hutan itulah aku sering sekali mendapati buah Ceplukan tersebut, tumbuh liar di antara tanaman di hutan. Yang aku tahu Ceplukan ini bukan untuk dikonsumsi manusia, tetapi makanan burung. Buahnya bulat, berwarna kuning jika sudah masak, sekilas agak mirip dengan tomat, terbungkus oleh kelopak bunga membentuk menyerupai lampion, dan rasanya manis dan kadang agak asam.
Saat sedang menyusuri hutan itulah aku sering sekali mendapati buah Ceplukan tersebut, tumbuh liar di antara tanaman di hutan. Yang aku tahu Ceplukan ini bukan untuk dikonsumsi manusia, tetapi makanan burung. Buahnya bulat, berwarna kuning jika sudah masak, sekilas agak mirip dengan tomat, terbungkus oleh kelopak bunga membentuk menyerupai lampion, dan rasanya manis dan kadang agak asam.
Sedikit heran ketika mengetahui ternyata physalis ini di Jerman biasa didapatkan di pasar. Hampir setiap hari bisa didapatkan buah ini hanya tidak terlalu banyak. Tetapi kalau musimnya tiba di negara yang menghasilkan buah tersebut biasanya cukup banyak juga didapati di pasaran. Sering juga physalis dipakai sebagai pelengkap salat atau hanya sebagai penghiasan dalam penyajian makanan.Physalis ini menurut ahli gizi banyak mengandung vitamin C dan memiliki beberapa khasiat, salah satunya adalah keluhan susah buang air kecil. Apakah masyarakat di tempat tinggal kakek dan nenekku dulu telah membudidayakan si Ceplukan ini untuk dikonsumsi sendiri atau masih tetap menjadinya sebagai makanan burung, aku tak pernah mendengar kabar tentang itu.
ketika ingat kegiatan masa kecil di kampung yang jauh di sana
Kak Su
Pagi tadi saat mengantar putriku, Chiara ke Kindergarten tiba-tiba masuk SMS ke ponselku. Pesan dari salah satu adikku di Medan.
„Kak, di rumah ada tamu, katanya dia dulu pernah kerja di rumah kita waktu kalian masih kecil. Namanya kak Su. Tapi kami nggak kenal dia“.
Aku langsung balas pesan itu, dan berjanji akan segera menelpon ke Medan begitu tiba di rumah.
Aku masih ingat sekali sosok wanita tersebut. Kami memanggilnya kak Su. Selalu berkebaya, karena dia memang berasal dari salah satu kota di Jawa, dan pindah karena pekerjaannya di Medan. Aku masih kecil sekali saat itu, belum masuk sekolah. Yang aku ingat bahwa dia adalah wanita yang rajin dan lembut sekali.
Ibuku dulu sering sekali bercerita kepada kami bagaimana baik, sabar dan rajinnya kak Su. Aku tahu bahwa Ibuku sayang sekali padanya. Seorang wanita yang tulus dan telah dianggap seperti bagian dari keluarga kami. Ibuku sedih sekali begitu kak Su meninggalkan keluarga kami, walaupun beliau tau dan ikut bahagia kak Su pergi karena telah memiliki keluarga sendiri. Setelah menikah kak Su beberapa kali mengujungi kami, tetapi kenangan tentang itu tak aku ingat lagi.
Aku sempat berbicara dengannya lewat telpon. Suaranya masih bisa aku ingat, ramah, lembut dengan logat Jawa yang masih kental. Betapa girangnya dia mendengar suaraku, dan sedikit bercerita masa kecilku dulu. Haa...ternyata aku adalah anak yang bandel sekali. Tapi julukan bandel ini bukan hanya dari kak Su aku dengar, Ayahku juga selalu bilang begitu. Maka tak heranlah kalau putriku juga bandel. Nyatanya dia menerima gen kebandelan itu dariku.
Di balik kegembiraan kak Su bisa mengunjungi rumah kami dan mendapati kami anak-anak yang pernah diasuhnya dulu telah memilik keluarga masing-masing, dia juga sedih menerima kenyataan bahwa kedua orang tua kami telah berpulang, dan dia tak pernah tahu hal itu. Dia menyesalkan kenapa tak pernah memberi kabar, memberitahukan alamatnya yang baru atau mengunjungi rumah kami tersebut sebelumnya.
Menurutnya sudah beberapa minggu terakhir sebelum dia datang, Ibuku selalu hadir dalam mimpinya. Memintanya untuk datang mengunjungi rumah kami itu. Agak terharu aku mendengar penuturannya. Mungkin memang benar bahwa Ibuku sangat sayang padanya.
Catatan akhir tahun 2010
Friday, February 25, 2011
Surat untuk Kekasih
Dear Kekasih,
semoga keadaanmu baik dan selalu tersenyum seperti biasa. Lama aku tak mendengar kabarmu, tapi aku tahu bahwa engkau sibuk sekali dengan hidup barumu.
Kerinduanku terhadap dirimu tak juga hilang, biarpun segala cara telah kuusahakan. Mencoba melupakan kenangan kita, mencoba menerima realita bahwa dirimu bukan untukku. Dirimu yang tak pernah mengeluh, seburuk apapun keadaan yang terjadi, semua engkau terima dan hadapi dengan senyum.
Aku masih ingat pertemuan pertama kita, saat senja baru saja berganti menjadi malam. Satu tempat yang tak romantis, halaman parkir yang penuh warna-warni dedaunan yang telah rontok dari pepohonan. Sosokmu telah mampu mempesonaku, memaksaku untuk menghampirimu dan menyapa. Senyummu tak kan mampu aku lupa. Aku seperti kedatangan seorang peri yang paling manis.
Kebersamaan kita adalah anugrah terindah yang pernah aku terima dalam hidup. Mengarungi negeri dan benua yang berbeda. Kadang hanya hal-hal sederhana yang kita kerjakan dan lihat, tapi segalanya begitu indah dan berkesan.
Aku ingat betul ekspresi wajahmu ketika melihat kepala Moose yang tertengger di atas mobil seorang pemburu. Kau bertanya "apakah itu asli?". Ya tentu saja asli, dan kau boleh menyentuhnya kalau mau. Lalu kau sentuh kepala binantang tersebut, dan engkau tersenyum, begitu takjub dalam ketidakpercayaan, ingin sekali aku abadikan momen tersebut.
Aku juga tak kan pernah lupa waktu kau bilang chicken wings yang pernah kita santap berdua tersebut adalah yang terenak di dunia. Ah, engkau memang mengada-ada, tapi aku tau itulah satu yang aku suka darimu, kau selalu membuatku bahagia dan tertawa.
Masih ingatkah engkau di hari Ulang Tahunmu, ketika aku berpura-pura menjadi pelayan bagimu di tempat engkau menikmati hidangan tersebut. Wajahmu merona dan terkejut, engkau mengenali suaraku... Ah, ternyata itu adalah hadiah Ulang Tahun terindah, katamu. Aku berterima kasih sekali untuk kebaikkan sahabatmu yang telah membantuku membuat kejutan indah buatmu.
Suatu hari ketika engkau pamit dalam tangis, pergi meninggalkanku sendiri. Bagaikan langit yang runtuh menimpaku.
Engkau terluka...
Dan aku adalah orang yang membuatmu bisa menangis seperti itu, orang yang menyayangimu, kekasihmu.
Senyummu hilang...menguap entah ke mana.
Engkau bilang, bahwa kau baik-baik saja. Dalam kesedihan, masih tetap kau coba menghiburku.
Dan aku adalah orang yang membuatmu bisa menangis seperti itu, orang yang menyayangimu, kekasihmu.
Senyummu hilang...menguap entah ke mana.
Engkau bilang, bahwa kau baik-baik saja. Dalam kesedihan, masih tetap kau coba menghiburku.
Tolong, maafkan aku..!
Betapa egois dan sampai hati diriku.
Kekasih,
Betapa egois dan sampai hati diriku.
Kekasih,
Aku masih di sini, sendiri, menantimu. Mengharap waktu kembali berputar ke masa lalu.
Apapun akan aku lakukan untukmu, untuk kembali bersamamu. Walaupun aku harus menantimu sampai nafas berhenti. Harapanku tak kan pernah pupus, selagi hidup masih ada. Kalaupun tak mungkin, aku ingin kau jenguk, sedetikpun tak apa.
Cintaku untukmu akan selalu ada dan tak kan bisa aku hapus.
Selamat malam, Kekasih.
dari seorang yang didekap rindu.
catatan awal 2011
Agama apa...?
Kemarin aku ngobrol lewat chat room salah satu jejaring sosial dengan satu sahabatku dari masa kuliah dulu. Dia sekarang menetap di Pekanbaru. Persahabatanku dengan cowo satu ini cukup indah dan lucu. Dulu kami mulai dekat gara-gara rencana upacara 17 Agustus di kampus, yang sempat membuat kita sebel setengah mati. Sejak saat itulah kami sering ngumpul kalau ada kesempatan ketemu. Hanya sejak menyelesikan kuliah, kami sama-sama meninggalkan kota kelahiran, Medan, sehingga pertemuan menjadi barang langka.
Kalau kebetulan aku mudik ke rumah orang tua dulu, dan dia juga kebetulan sedang ada di Medan, maka acara ngumpul bakalan jadi agenda wajib.
Aku nggak tau lagi kapan terakhir kami bertemu, sampai akhirnya dikasih kesempatan ngumpul lagi saat aku berada di Medan tahun 2009, pada saat "kepulangan Ayahku". Aku lumayan lama di Medan, 30 hari, membenahi segala urusn yang harus dibereskan setelah kepergian kedua orang tua.
Dia sempat mengatakan bahwa persahabatan kami yang murni ini mungkin langgeng karena kami juga nggak terlalu mengurusi hal-hal yang tak penting. Termasuk ketaatan seseorang untuk beribadah.
Hanya gara-gara aku menetap di salah satu negara di Eropa yang mayoritas warganya adalah non-Muslim, dan kebetulan suamiku juga bukan orang Indonesia. Maka ada pertanyaan terhadap diriku yang dilontarkan salah satu teman kuliah dulu...
"Apa agama yang aku anut sekarang?"
Jawabannya....? Silakan jawab sendiri, masing-masing bisa mengarang jawabannya. Tak akan aku fikirkan.
Thursday, February 24, 2011
Melukis
Hasil lukisan putri kecilku, Chiara.
Hasil lukisan putri kecilku, Chiara.
![]() |
| Chiara, Papa dan Mama sedang bermain di halaman rumah. |
![]() |
| Rumah dengan kolam ikan di hari yang cerah. |
![]() |
| Cumi-Cumi |
![]() |
| Keluarga bahagia... |
Rindu
"Sekarang cita-citamu telah tercapai..dijaga baik-baik ya..!"
Itu perkataaanmu khusus kepadaku ketika aku baru saja menikah.
Sepertinya kau tahu semua apa yang kuimpikan, apa yang kuusahakan untuk diraih.
Aku hanya senyum-senyum waktu itu....dan mengangguk.
Aku rindu kau, Ayah...!
Wednesday, February 23, 2011
Menanti Musim Semi
Setelah beberapa hari suhu mulai menghangat. Raut wajah orang-orang yang berseliweran juga makin cerah. Senang sudah bisa melepaskan sepatu yang berlapis hangat di bagian dalam dan tapaknya dari karet dan bergerigi kasar, mencegah jangan sampai terpeleset di licinnya jalan bersalju dan ber-es.
Dua hari lalu turun lagi salju dengan lebatnya, dan temperatur yang turun lagi ditambah hembusan anginnya membuat makin dingin. Tak sabar menanti musim Semi datang.
Tuesday, February 22, 2011
Uang Bukan Segalanya...
Suatu hari aku kedatangan salah satu teman baikku. Lama juga tidak saling mengunjungi dan bercerita banyak seperti biasa. Sebelum putriku lahir, aku sering menghabiskan waktu di rumahnya, menikmati masakannya yang lezat. Setelah itu dia sibuk dengan sekolah dan pekerjannya, sedangkan aku sibuk dengan putri kecilku. Kadang kita ngobrol juga, tapi hanya lewat telfon, dan tidak pernah lebih dari dua jam. Atau kalaupun kita ketemu hanya di suatu perayaan yang tentunya selain kita berdua, banyak yang hadir. Obrolan tidak bisa meluas dan terlalu pribadi.
Kalau sudah ketemu seperti ini pasti segala topik tumplek blek diobrolkan. Aku merasa temanku ini agak kurang ceria, tidak seperti biasanya. Akhirnya memang dia bisa menumpahkan kekesalannya. Dia hanya ingin kehidupan mereka berjalan maju. Dia punya rencana lebih baik untuk pekerjaanya, dan juga ingin suatu hari punya anak. Untuk rencana punya anak ini tidak mungkin rasanya tanpa ada penghasilan tetap, paling tidak satu di antara mereka berdua, sebagai suami istri. Si istri kerja setiap hari di berbagai tempat, sambil juga menyambi sekolahnya yang masih harus dilanjutkan. Sementara si suami masih berkutat dengan kuliah jarak jauhnya yang sudah terlalu lama tapi tidak juga terselesaikan.
Aku lalu kasih saran dia untuk membicarakannya terus terang dengan suami. Tanya dia apa rencananya untuk masa depan mereka. Mencari pekerjan dan berpenghasilan tetap, karena rencana ke depan masih banyak sekali. Tapi menurut temanku dia sudah pernah tanya, dan jawabannya "tidak tahu". Kata suaminya "uang bukan segalanya".
Jawaban yang sedikit mengejutkan menurutku. Aku akhirnya bilang ke temanku agar dia fokus untuk sekolahnya, dan nantinya semoga dapat perkerjaan yang lebih bagus. Selain itu harus juga mendesak suaminya untuk secepat mungkin menyelesaikan kuliahnya. Memang "Uang bukan segalanya", tapi hidup tidak gratis, kita butuh biaya untuk itu.
Aku lalu kasih saran dia untuk membicarakannya terus terang dengan suami. Tanya dia apa rencananya untuk masa depan mereka. Mencari pekerjan dan berpenghasilan tetap, karena rencana ke depan masih banyak sekali. Tapi menurut temanku dia sudah pernah tanya, dan jawabannya "tidak tahu". Kata suaminya "uang bukan segalanya".
Jawaban yang sedikit mengejutkan menurutku. Aku akhirnya bilang ke temanku agar dia fokus untuk sekolahnya, dan nantinya semoga dapat perkerjaan yang lebih bagus. Selain itu harus juga mendesak suaminya untuk secepat mungkin menyelesaikan kuliahnya. Memang "Uang bukan segalanya", tapi hidup tidak gratis, kita butuh biaya untuk itu.
catatan untuk seorang sahabat.
Monday, February 21, 2011
iPad & BlackBerry
Siang ini kami sedang menyusuri pusat perbelanjaan di Singapur. Mumpung sedang liburan di sana (walaupun singkat) sekalian disempatkan belanja. Ditambah lagi sedang SALE di mana-mana. Tujuan utama pingin lihat-lihat lensa Objektiv untuk kamera dan juga beberapa keperluan kecil lainnya.
Di satu toko barang-barang elektronik kami melihat dan mencoba iPad G3, satu produk dari Apple. Sebagai pertimbangan untuk membeli produk tersebut sebagai ganti notebook yang rusak, hanya kapan belinya ya belum direncanakan. Sang Penjual, seorang lelaki yang masih belia menghampiri, menyapa dan tersenyum, sambil menanyakan apakah ada yang bisa dibantu. Suamiku kemudian mengajukan beberapa pertanyaan tentang produk tersebut. Si Penjual ingin menjelaskan kira-kira perbandingan dan kelebihan antara iPod touch dan iPad G3 tersebut.
Penjual: "Do you have an iPod?", tanya dia ke suamiku.
Suami: "No."
Penjual: "Do you have an iPod?", pertanyaan yang sama ke aku.
Aku: "No."
Penjual memandang kami berdua dengan sedikit heran dan bingung.
Aku dan suamiku hanya senyum-senyum sambil ngomong bisik-bisik (pasti si penjual itu nggak mengerti kami ngomong apa..hehehe..).
Akhirnya dia hanya menunjukkan fungsi-fingsinya saja tanpa menjelaskan lebih lanjut. Dan membiarkan aku dan suami mencoba-coba produk tersebut. Mungkin agak sedikit aneh di jaman ini kalau ada seseorang yang tidak mempunyai iPod, entahlah.
Blackberry
Penjual: "Do you have an iPod?", tanya dia ke suamiku.
Suami: "No."
Penjual: "Do you have an iPod?", pertanyaan yang sama ke aku.
Aku: "No."
Penjual memandang kami berdua dengan sedikit heran dan bingung.
Aku dan suamiku hanya senyum-senyum sambil ngomong bisik-bisik (pasti si penjual itu nggak mengerti kami ngomong apa..hehehe..).
Akhirnya dia hanya menunjukkan fungsi-fingsinya saja tanpa menjelaskan lebih lanjut. Dan membiarkan aku dan suami mencoba-coba produk tersebut. Mungkin agak sedikit aneh di jaman ini kalau ada seseorang yang tidak mempunyai iPod, entahlah.
Blackberry
Sejak beberapa tahun lalu Blackberry (BB) makin umum dimiliki segala kalangan, terutama di Asia, Indonesia khususnya. Beberapa temanku juga ada yang menanyakanku pin code atau BBM. Aku jujur saja menjawab nggak punya. Sebahagian mungkin agak heran, masak iya tinggal di Jerman nggak menggunakan BB? Tapi aku bilang ke mereka, di Jerman banyak pengguna BB, tapi tidak menjamur dan laris seperti kacang goreng lyaknya di Indonesia. Mungkin aku bisa bilang bahwa orang Jerman itu paling rasional sebagai komsumen. Yang aku bicarakan di sini tidak mencakup semua, tetapi rata-rata dari mereka.
Aku bukannya nggak mau menggunakan BB, tapi aku memang termasuk pelit untuk mengeluarkan duit yang banyak hanya untuk sebuah ponsel. Bagiku, saat ini kegunaan ponsel yang utama adalah untuk berbicara dan mengirimkan SMS.
Pernah suatu kali waktu aku sedang berada di Medan, ketika sedang ngobrol dengan saudara di sana kita membicarakan harga satu ponsel. Ketika satu adikku mengatakan harganya sekitar 1 juta rupiah, aku langsung bilang mahal sekali. Adikku langsung bilang harga 1 juta rupiah itu murah. Mahal atau murah itu memang relatif. Karena setiap 2 tahun sekali provider ponselku (hampir semua provider di Jerman memberlakukan ini) memberikan ponsel baru dan gratis. Kadang memang nggak gratis, tapi harganya hanya €1.- saja. Harga memang berbeda, tergantung produk yang paling baru di pasaran atau produk yang sudah umum di pasar.
Sampai hari ini ponselku yang paling mahal adalah seharga €10,-. Kebutuhan orang memang berbeda, karena kebutuhanku terhadap ponsel untuk saat ini masih sangat sederhana, makanya cukuplah ponsel yang aku ambil dengan harga yang paling minim. Pasti kalau BB gratis atau harganya hanya €1,- aku akan terima dengan senang hati. Hanya mungkin aku akan pilih tuts yang non touch screen (gaptek ya..). Untukku yang masih repot dengan anak kecil, masih terlalu ribet menggunakannya dengan mengandalkan hanya satu tangan yang bebas, sementara tangan sebelah lagi biasanya penuh dengan barang bawaan lainnya.
Tulisan ini bukan maksud promosi produk tertentu ya.
Catatan awal 2011...masih menantikan BB €1,- :)
Monday, February 14, 2011
Monday, January 31, 2011
Mencari Buku Berbahasa Indonesia
Masih tentang catatan liburan. Rencanaku selama liburan ini adalah membeli buku-buku berbahasa Indonesia. Membaca berita lewat internet bisa dilakukan. Tapi membaca novel atau cerita sejenis rasanya lebih nyaman dibaca langsung dari bukunya.
Di daerah Lovina atau Singaraja yang lebih besar kotanya agak sulit menemukan toko buku yang kumaksud tersebut. Jadi aku berencana selama menghabiskan liburan di Nusa Dua aku akan jalan-jalan ke Denpasar dan Kuta. Ada beberapa mall yang aku jalani, dan tentu saja niat membeli buku harus terlaksana karena masa liburan juga makin mendekati akhir.
Aku masuki beberapa toko buku dengan beberapa nama, tapi tak satupun yang menjual buku dalam bahasa Indonesia. Malah beberapa penjaga tokonya agak terheran-heran waktu aku bertanya apakah tersedia buku dalam bahasa Indonesia.
Bali mungkin bukan bagian dari Indonesia. Kecewa sekali..!
Di daerah Lovina atau Singaraja yang lebih besar kotanya agak sulit menemukan toko buku yang kumaksud tersebut. Jadi aku berencana selama menghabiskan liburan di Nusa Dua aku akan jalan-jalan ke Denpasar dan Kuta. Ada beberapa mall yang aku jalani, dan tentu saja niat membeli buku harus terlaksana karena masa liburan juga makin mendekati akhir.
Aku masuki beberapa toko buku dengan beberapa nama, tapi tak satupun yang menjual buku dalam bahasa Indonesia. Malah beberapa penjaga tokonya agak terheran-heran waktu aku bertanya apakah tersedia buku dalam bahasa Indonesia.
Bali mungkin bukan bagian dari Indonesia. Kecewa sekali..!
Sunday, January 30, 2011
Bali, Kampung Rusia
Setelah menghabiskan waktu liburan 2 minggu di daerah Bali bagian utara, kami pindah ke Bali bagian selatan, tepatnya di Nusa Dua. Banyak sekali perubahan di Bali dari kunjunganku terakhir 5 tahun yang lalu, tepat dua hari sebelum kejadian Bom II di salah satu Cafe yang ada di daerah Kuta. Cafe yang sempat kita jadikan tempat melepas kelelahan dan bersantai sejenak setelah menyusuri daerah perbelanjaan di sana. Ada beberapa bangunan tinggi yang baru ikut menambah keramaian di sana.
Menjelang makan siang kami tiba di hotel. Kemudian waktu kami lewati dengan menyantap makanan di sekitar area kolam renang sembari menikmati keindahan pantai.
Cuaca di sini lebih bagus dari di Lovina yang sering mendung. Kelembaban udara di Lovina sangat tinggi, mungkin kalau panas terik waktu berada di sana, bisa setengah mati kelelahan. Aku tak perlu sibuk membalurkan krim pelembab kulit, yang biasanya wajib aku pakai di rumah, kalau tak ingin kulit kering bersisik dan memutih terkelupas dan pecah-pecah. Rambut juga kembali lembab dan mengembang. Di Nusa Dua aku merasakan kelembaban udara lebih rendah dari Lovina dan sangat nyaman.
Agak mengagetkanku, Bali telah berubah menjadi kampung Rusia. Tamu di hotel tempat kami menginap 90% adalah orang Rusia. Beberapa Biro Perjalanan Wisata juga dengan bahasa Rusia dan petugasnya juga orang Rusia. Aku suka melihat banyak dari mereka, para wanita ini berdandan dan berbusana serasi, terutama menjelang makan malam, cantik sekali. Prianya tidak terlalu aku perhatikan, kebanyakan berwajah dingin dan kurang senyum. Sering aku lihat kalau lagi makan mereka langsung marah-marah kepada pegawai yaang melayani di restoran.
Para pekerja di restoran maupun penjual di toko bisa berbahasa Rusia. Jadi mereka tak perlu capek-capek berbahasa Inggris. Hampir seluruh toko maupun rumah makan menyertakan bahasa Rusia di papan nama ataupun di menu makanan mereka.
![]() |
| Nusa Dua pada malam hari |
Satu kali kami pergi mencari restoran Jepang yang pernah kami kunjungi, betapa lezatnya makanan di sana. Ingatan itu yang seperti mengharuskan kami untuk menyantap hidangan di sana lagi. Hanya sayangnya kenikmatan yang pernah ada lima tahun lalu tak tersisa, tak juga keramahan penyajinya. Yang lebih parah menu ditulis dalam bahasa Jepang dan Rusia. Tak ada keterangan dalam bahasa Inggris apalagi Indonesia. Mungkin pasaran mereka memang tidak ditujukan untuk masyarakat Indonesia. Memprihatinkan.!
| Binatang (gak tau namanya) yang pernah ikutan berenang di kolam renang |
Bali, yang menitikberatkan roda ekonomi dari Pariwisata, mudah-mudahan semakin ramai, warga dunia manapun yang memenuhinya. Semoga taraf hidup masyarakatnya makin merata, tanpa membedakan kasta.
Catatan liburan Bali, akhir 2010 - awal 2011
Manusia Hebat
Ada artikel yang baru kubaca yang sangat berkesan. Sebenarnya aku agak ketinggalan, karena berita tersebut adalah edisi tahun lalu. Memang belakangan ini jarang sekali aku kunjungi surat kabar online tersebut. Cerita yang kubaca mengenai Sarjana berprestasi yang yang terpilih dan siap mengabdikan diri mereka di pelosok negeri untuk menjadi pengajar bagi murid-murid yang memang sangat membutuhkan mereka. Program ini diadakan oleh Yayasan.Indonesia.Mengajar. Betapa hebatnya mereka yang rela melepas kemapanan dan kemewahan hidup yang mereka miliki untuk hidup dan mengabdi di sana dengan segala keterbatasannya. Beberapa tulisan berikutnya juga menceriterakan pengalaman selama masa pengabdian mereka di sana.
Sedikit membuat aku merinding membaca tulisan tersebut. Begitu hebat dan mengharukan. Aku tiba-tiba ingat dengan jerih payah yang dilakukan almarhumah Ibundaku. Beliau memang pendidik sejati. Ibundaku di masa setelah pensiunnya dari seorang pendidik, rela ikut membangun dan mengembangkan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Pekerjaan tersebut tak bergaji, kalaupun beliau mungkin menerima upah kecil, hal itu takkan mampu menggantikan ongkos lahir batin yang telah beliau abdikan. Karena aku tahu pasti, untuk beliau Mengajar itu adalah Kewajiban.
Aku juga bisa menyatakan pujian buat beberapa teman yang bisa mengabdikan diri membantu orang lain, memberikan pengajaran, apapun itu tanpa mengharapkan imbal balik. Karena aku tahu bahwa diriku sendiri tidak bakalan sanggup dan merasa berat sekali untuk melakukan hal-hal mulia tersebut.
Ibundaku adalah satu dari Manusia Hebat tersebut. Aku bangga jadi anakmu, Ibu.
Saturday, January 29, 2011
Selimut Debu - terwujud
Buku ini aku miliki tanpa membayar. Ini hadiah dari adikku Julie, (makasih ya tante Ebo..!). Tuntas sudah membacanya, walaupun nyicil lama...
Waktu di Lovina malah yang jadi tante Ebo aku sendiri. Enrico, si anak tante Ebo malah mikirnya yang namanya tante Ebo itu adalah tante Nana :))
Kutukan Taun Piro
Satu dari note HN Morning Note - KARTU POS TAHUN PIRO, membuatku jadi berfikir bagaimana nasib beberapa kartu pos yang telh kukirimkan dari ke Bali pada masa liburan terakhir.
Kalimat penutupnya berbunyi "Entahlah.. semoga kutukan taun piro segera berakhir. :p
Ternyata kutukan itu tak menghampiri.
Kemarin aku tahu bahwa kartu telah mendarat di alamat masing-masing.
Terima kasih ya Mon, telah tanpa sengaja mengingatkanku akan kartu-kartu tersebut.
Terima kasih juga buat Pos Indonesia, tentunya :)
Lovina, satu sudut di pulau Dewata
Liburan ke Bali kali ini telah direncanakan lebih dari setahun yang lalu. Tempat dipilih di daerah Lovina karena kebetulan kami belum pernah berkunjung ke sana, dan juga rencana bahwa kami akan mengadakan reuni keluarga walaupun tidak semua bisa menghadirinya. Karena masa liburan ini bersamaan dengan masa libur sekolah dan juga liburan akhir tahun maka banyak tempat di sekitar daerah Bali bagian Selatan yang penuh. Akhirnya putusan jatuh ke daerah utara, tepatnya sekitar Lovina.
Kami memerlukan satu Villa yang bisa menampung 7 orang dewasa plus 7 anak-anak. Setelah menghubungi beberapa Villa, akhirnya ada satu yang menyatakan bahwa tempat mereka bisa menampung tamu sebanyak kami dan masih kosong pada periode liburan kami.
Menuju ke penginapan ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Sepertinya jaraknya kurang dari 100 km, tetapi jalan menuju ke sana melintasi daerah pegunungan yang penuh dengan kelokan. Tak jelas berapa banyaknya, yang pasti lebih dari Kelok Ampek-Ampek di Sumatra Barat sana.
Lokasi Villa ini di Den Carik, tepat di pinggir pantai dengan pasir hitamnya, bagus sekali sebenarnya. Sayangnya masa ini adalah musim hujan, sehingga air pasang dan pasir di pantai tertutup air. Ombak yang menghempas juga cukup besar, sering ada ketakutan seandainya tiba-tiba tembok pagar pemisah antara pantai dan halaman jebol diterjang ombak. Hampir setiap malam hujan disertai petir dan kilat yang menyambar. Aku memang takut kalau ada petir dan sering tidak berani berada di luar ruangan atau di tempat terbuka pada saat seperti itu.
Lokasi Villa ini di Den Carik, tepat di pinggir pantai dengan pasir hitamnya, bagus sekali sebenarnya. Sayangnya masa ini adalah musim hujan, sehingga air pasang dan pasir di pantai tertutup air. Ombak yang menghempas juga cukup besar, sering ada ketakutan seandainya tiba-tiba tembok pagar pemisah antara pantai dan halaman jebol diterjang ombak. Hampir setiap malam hujan disertai petir dan kilat yang menyambar. Aku memang takut kalau ada petir dan sering tidak berani berada di luar ruangan atau di tempat terbuka pada saat seperti itu.
Villa yang kami sewa selama 2 (dua) minggu tersebut terdiri dari 3 bangunan, yang terdiri dari Villa utama dengan 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, 1 toilet, dan satu ruangan terbuka yang terdiri dari dapur, ruang makan dan ruang tamu. Di luar terdapat teras yang langsung menuju ke kolam renang.
Satu bangunan lain adalah 1 rumah kecil yang disebut Lumbung. Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah terdapat ruang tamu, kamar mandi dan dapur kecil. Sedangkan di lantai atas adalah kamar tidur dengan dua buah tempat tidur yang masing-masing cukup untuk 2 orang. Di bagian luar juga terdapat balkon kecil.
Bangunan terakhir adalah Guest house, yang memiliki 2 kamar tidur, kamar tidur yang 1 lumayan agak besar dengan kamar mandi dan pantry kecil. Sedangkan kamar tidur yang satu lagi hanya kamar kecil dengan tempat tidur bertingkat. Di luar terdapat teras kecil.
Di halaman villa menuju pantai terdapat pondok yang dilengkapi matras, juga bantal dan guling. Di sini biasanya kalau kmi menikmati pijatan dari tk. pijat yang beberapa kali kami panggil. Nyaman sekali untuk bersantai.
Pendapatku pribadi villa ini bagus sekali, hanya sayangnya alat-alat masak yang tersedia bisa dibilang sangat tidak memadai, banyak yang rusak dan perlengkapan makan juga tidak lengkap. Villa ini menurutku sedikit kurang aman untuk anak-anak kecil, seperti anakku dan juga para ponakanku yang masih relatif seumur dengan Chiara. Anak-anak seperti mereka masih kurang memikirkn kalau tiba-tiba terjatuh ke parit yang salurannya langsung menuju laut tanpa ada pengamannya. Pemilik villa ini adalah pasangan Prancis, yang kebetulan pada saat kami di Bali, mereka juga sedang ada di Indonesia. Kesanku terhdap mereka agak kurang positif, salah satunya mereka pelit sekali.
Banyak terdapat villa yang bagus, nyaman dan asri di sana. Masih juga bisa ditemukan swah di mana-mana, tetapi sepertinya lokasi sawah makin lama makin tersudut karena banyak tanah yang telah disulp menjadi villa.
Yang sering mengganggu adalah masyarakat sekitar yang masih terbiasa dengan sampah di mana-mana. Aku juga melihat bahwa anak-anak kecil masih buang air di parit pinggiran jalan di depan rumah mereka. Tak heran kalau tercium bau di mana-mana.
Pasir di pantai yang warnanya hitam tersebut sangat mengesankan, hanya banyak sekali tumpukn sampah di mana-mana. Sepertinya banyak sekali orang yang memang sengaja membuang sampah sembarangan, sangat kontras dengan arsitektur bangunan yang indah.
Di Lovina ini aku selalu mendengar suara adzan memanggil orang-orang untuk beribadah. Bagiku yang telah berkunjung beberapa kali ke Bali, bukanlah hal yang biasa. Di daerah Bali bagian Utara inilah banyak pemeluk Islam.
Tak terlalu banyak kutemui turis asal Indonesia di sana. Mungkin juga karena lokasi daerahnya yang agak jauh dari bandara, juga jalan yang membuat perut mual melintasi kelokan yang pasti jumlahnya lebih dari 100 itu.
Pemandian air panas dan juga wisata melihat lumba-lumba bisa kita lakukan di sana. Kedua wisata tersebut tidak kami kunjungi dengan alasan cuaca dan juga kurang nyaman untuk anak-anak yang masih kecil-kecil untuk menaiki perahu kecil menuju lokasi.
Liburan kali ini betul-betul menyenangkan karena bisa kumpul bersama saudara yang mungkin tak kan bisa kami bermimpi untuk setiap tahun liburan bersama seperti ini. Tak ada kesan yang membekas indah terhadap Bali. Selama aku di sana tak terasa bahwa itu adalah bagian dari tanah kelahiranku. Bali sepertinya bukan Indonesia.
catatan liburan akhir 2010 dan awal 2011
Di Lovina ini aku selalu mendengar suara adzan memanggil orang-orang untuk beribadah. Bagiku yang telah berkunjung beberapa kali ke Bali, bukanlah hal yang biasa. Di daerah Bali bagian Utara inilah banyak pemeluk Islam.
Tak terlalu banyak kutemui turis asal Indonesia di sana. Mungkin juga karena lokasi daerahnya yang agak jauh dari bandara, juga jalan yang membuat perut mual melintasi kelokan yang pasti jumlahnya lebih dari 100 itu.
Pemandian air panas dan juga wisata melihat lumba-lumba bisa kita lakukan di sana. Kedua wisata tersebut tidak kami kunjungi dengan alasan cuaca dan juga kurang nyaman untuk anak-anak yang masih kecil-kecil untuk menaiki perahu kecil menuju lokasi.
![]() |
| Salah satu penghuni Villa |
catatan liburan akhir 2010 dan awal 2011
Sunday, January 16, 2011
Imigrasi
Perjalanan panjang dan melelahkan yang tertunda hampir sehari akhirnya berakhir. Memasuki antrian di Imigrasi Denpasar-Bali. Sayangnya untuk melewati loket imigrasi harus satu persatu (seperti tertulis di samping loket). walaupun satu keluarga tidak bisa maju bersama. Akhirnya aku putuskan melewati loket bersama putri kecilku.
Aku (sambil menyerahkan Paspor) : "Selamat pagi, Pak!", kataku kepada Petugas Imigrasi (PI).
PI : "Selamat Pagi!"
PI memeriksa dan meneliti pasporku dan anakku, juga Kartu Kedatangan yang telah diisi rapi.
PI : "Masih punya keluarga di Indonesia?"
Mungkin pertanyaan timbul karena Paspor kami berdua tidak berwarna hijau.
Aku : "Orang tua saya sudah tidak ada dua-duanya."
Jawabanku sebenarnya agak membelok sedikit. Aku masih punya keluarga tentunya di Indonesia, tetapi benar sekali kedua orang tuaku telah berpulang.
PI : "Sudah berapa lama tinggal di Jerman?"
Aku : "Sudah cukup lama, Pak. Dari jaman kuliah."
Jawaban pintar ya hehehe..
PI : "Oh, sudah lama ya."
Aku : "Iya."
PI : "Mau tinggal berapa lama di Indonesia?"
Aku : "Dua puluh (20) hari, Pak."PI : "Nggak bakalan lebih dari dua puluh hari?"
Masih tak percaya dia akan jawabanku tadi. mungkin. Kan VoA yang aku bayar tersebut untuk 30 hari, boleh dong kalau mau lebih dari 20 hari.
Aku : "Nggak bisa, Pak. Kan harus pulang dan kembali kerja."
PI : "Oh, pulang ke tempat tinggalnya, di mana tadi?"
Aku : "Di Jerman."
Dalam hatiku mikir, ini si Petugas sok mau menguji aku, apakah aku tahu di negara mana aku tinggal, atau dia memang lupa walaupun Pasporku masih di tangannya.
PI kemudian menyerahkan Paspor aku dan anakku.
Aku : "Terima kasih, Pak."
PI : "Iya."
Suamiku yang menunggu sedikit heran. Pertanyaan apa saja yang telah diajukan si Petugas terhadapku.
Sebahagian petugas imigrasi memang kadang mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dan kadang dibuat-buat dan sering menyebalkan. Kejadian dan pertanyaan aneh sering aku alami ketika melewati loket Imigrasi di Indonesia. Bukan hanya petugas di Indonesia saja, ada juga petugas Imigrasi di USA yang juga kadang mengajukan pertanyaan yang menyebalkan dan tidak ada hubungannya dengan ijin masuk dan keimigrasian.
Mereka itulah yang merasa punya kuasa. Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi, tanpa bermaksud menyamaratakan semua petugas.
Thursday, January 06, 2011
Wednesday, December 22, 2010
Pajak Bea Masuk
Beberapa teman mengirimkan berita mengenai peraturan baru pajak barang masuk yang akan diberlakukan awal tahun depan di Indonesia. Pajak tersebut akan diberlakukan untuk barang belanjaan dari luar negeri yang nilainya melebihi $250.
Pengenaan pajak barang masuk seperti tersebut di atas sebenarnya wajar saja. Sepertinya hampir semua negara memberlakukan peraturan tersebut, hanya nilai minimal nominalnya berbeda-beda. Yang agak sedikit mengganggu (bagiku), di Indonesia sudah sering terjadi dan beberapa hal aku alami sendiri bahwa tidak ada peraturannya pun para penumpang yang datang dari luar negeri ditagih bayaran. Berapa banyak lagi yang akan ditagih para pejabat yang berwenang terhadap penumpang, tergantung "kebijaksanaan" petugas.
Perasaan tidak nyaman sering mengganggu dalam diriku kalau harus terbang ke Indonesia. Entah bagaimana cara menghapuskan perasaan itu. Mungkin menunggu sampai kebiasan korupsi yang di anggap wajar di sana dimusnahkan. Kapan datangnya. tak bisa kujawab. Hanya menanti keajaiban.
Hari Ibu
Aku tulisan ulang catatan ini karena membaca di Surat Kabar Online maupun beberapa status di jejaring sosial teman-temanku mengenai peringatan Hari Ibu Nasional. Dulu menjelang Hari Ibu adalah Ulang Tahun almarhumah Ibundaku 19 Desember. Peringatan Hari Ibu di Indonesia adalah tanggal 22 Desember setiap tahun. Sedangkan Hari Ibu di Jerman dirayakan pada hari Minggu di minggu ke-2 bulan Mei.
Dulu Ibuku sering menerima hadiah bunga dari murid-muridnya. Sebenarnya keistimewaan hari tersebut lebih tercipta ketika memperingati ulang tahun beliau, atau mungkin juga kebahagian itu berlanjut (baginya) karena beberapa hari kemudian adalah peringatan Hari Ibu.
Sejak bermukim mengikuti suami di negara asalnya, aku ikut merayakan Hari Ibu yang berlaku di sini. Biasanya kita mengunjungi kedua Ibu mertuaku. Tidak terlalu istimewa memang, hanya mempersembahkan mereka seikat bunga. Tapi begitupun aku yakin bahwa persembahan kecil tersebut membuat mereka bahagia.
Selamat Hari Ibu, Ibunda tercinta...!
Aku yakin Engkau damai di Sana.
-----
Tuesday, December 14, 2010
Sajak Buatmu
Telah kulepas semua
bayang-bayang masa lalu,
hanya untuk kamu.
Telah kulupakan semua
mimpi-mimpi lalu,
yang menggurat duka.
Kembali,
untuk semua yang kucita-citakan
untukmu,
bersamamu.
bayang-bayang masa lalu,
hanya untuk kamu.
Telah kulupakan semua
mimpi-mimpi lalu,
yang menggurat duka.
Kembali,
untuk semua yang kucita-citakan
untukmu,
bersamamu.
Bandung, 1993
Monday, December 13, 2010
Melepas Merah Putih
Perbedaan itu mungkin sebatas dokumen.
Tak apa kalau ada yang mengatakan tidak setia
terhadap tanah kelahiran,
tak juga menggangguku kalau ada yang menyebut
tidak nasionalis atau patriotis.
Kecintaan seseorang itu bisa memudar,
menipis atau bisa juga sebaliknya semakin kuat.
Hanya diri sendiri yang paling bisa mengerti
dan merasakan,
di mana rumah yang nyaman,
tempat bermukim.
Sunday, December 12, 2010
Buku Harian
Kebiasaanku menulis sesuatu di Buku Harian seingatku dimulai ketika duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Entah karena keisengan dan kesenangan, atau mungkin juga memasuki masa remaja di mana situasi dan perasaan rasanya lebih sensitif dan (agak) cengeng. Dulu almarhumah Ibuku sering mendapatkan Buku Agenda dari salah satu penerbit buku pelajaran untuk sekolah. Beliau sering membagikan buku tersebut pada kami anak-anaknya.
Segala macam aku tuliskan di dalam buku tersebut, mulai dari perasaan, kejadian keseharian, puisi juga beberapa cerita pendek yang aku coba karang. Sudah tidak bisa aku bayangkan berapa banyak jumlah buku yang telah aku penuhi dengan coretan yang tak penting dan mungkin memalukan kalau dibaca sekarang.
-------
Selesai kuliah aku pindah ke Bandung. Di sana aku memulai pengalaman menjadi anak kos, sekamar dengan kakak kandungku yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Baru beberapa minggu memulai hidup di sana, kakakku malah dapat beasiswa ke salah satu negara di Eropa, jadilah aku sendiri. Begitu akan pindah ke kota inilah sebahagian buku harianku telah aku kumpulkan dan berfikir untuk memusnahkannya. Bagaimana mungkin membawa buku sebanyak itu.
Setahun bermukim di Bandung, kemudian pindah ke Jakarta karena akhirnya aku mendapatkan kerja di sana. Perlahan-lahan aku bisa memusnahkan buku harian yang menumpuk tersebut. Tetapi kebiasaan menulis ini masih berlanjut di Jakarta walaupun frekuensinya rendah sekali. Mungkin kebiasaanku itu perlahan tertutup oleh hidup baruku, sibuk dengan kerja, dunia baru dan juga teman-teman baru.
----------
Tahun 2009 kemarin aku kembali ke rumah orang tua di Medan. Ayahku wafat, menyusul Ibunda yang telah "pergi" duluan 11 bulan sebelumnya. Selama 1 bulan di Medan itulah waktunya bagi kami anak-anak yang ditinggalkan untuk membenahi dan membereskan segala surat-surat dan barang-barang yang ditinggalkan almarhum orang tua.
Ketika membereskan lemari pakaian Ayahku itu ada satu laci yang terkunci. Kami agak bingung mencari di mana kunci lagi tersebut. Pastilah surat-surat penting ada di situ. Akhirnya laci tersebut berhasil dibuka. Hampir pingsan begitu aku lihat ternyata salah satu benda yang mengisi laci tersebut adalah satu Buku Harianku. Entah apa perasan yang saat itu hadir dalam diriku.
11.Dez.2010
Catatan ditulis ketika perasaan rindu kuat menyergap, tadi malam alm. Ayah hadir di mimpiku.
Subscribe to:
Posts (Atom)

































